23 Desember 2007

Karya untuk Indonesia...

Harian Kompas: Sabtu, 22 Desember 2007

Rumahpengetahuan.web.id

Lupakan sejenak banjir yang melanda Gorontalo. Di tengah terjangan luapan air sungai Bone-Bolango di kota tersebut, pertengahan Desember ini ada geliat masyarakat untuk bangkit menatap hari esok dengan semangat kemandirian. Semangat itu tercermin dalam Kongres Inovasi Gorontalo untuk Indonesia yang dirintis sejak awal November lalu sebagai upaya menggali, menghimpun, melindungi, serta memberi penghargaan karya- karya inovatif dalam khazanah inovasi nasional.

Semua kalangan masyarakat, termasuk pelajar, dosen, petani, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) diberi kesempatan mendaftarkan karya mereka untuk dinilai.
Puncaknya, Rabu (19/12), dari 52 karya yang masuk dan dinilai, tiga karya inovasi terbaik mendapatkan Fadel Muhammad Innovation Award 2007. Pemenang I, II, dan III, masing-masing meraih hadiah Rp 5 juta, Rp 3 juta, dan Rp 2 juta.

Tidak terlalu spektakuler

Karya yang dinyatakan sebagai pemenang memang tidak terlalu spektakuler. Idenya biasa-biasa saja, tetapi tergolong orisinal. "Dan, yang utama adalah gagasannya membumi dan memberi nilai tambah bagi kegiatan perekonomian masyarakat setempat."

Pemenang pertama, Margaretha Solang dan kawan-kawan, misalnya, mengajukan karya berjudul Peningkatan Pertumbuhan dan Kematangan Gonad Ikan Nila Melalui Teknik Pemotongan Sirip Ekor. Dosen Universitas Negeri Gorontalo ini mencoba menawarkan solusi bagi peternak ikan nila untuk meningkatkan pertumbuhan dan kematangan gonad ikan nila melalui teknik memotong sirip dan ekor secara tegak lurus. "Sirip ekor ikan merupakan titik tumpu pergerakan. Dengan memotong sirip tegak lurus, maka pergerakan ikan dibatasi. Dengan demikian, asupan makanan tak terbakar menjadi energi, tapi malah menjadi daging," kata Margaretha menjelaskan. Dosen Biologi tersebut mencatat, dalam waktu dua bulan pascapemotongan sirip ekor, pertumbuhan dan berat daging ikan nila tumbuh pesat. "Biasanya, satu kilogram ikan nila terdiri dari lima ekor. Dengan cara pemotongan sirip seperti di atas, maka satu kilogram ikan nila menjadi tiga ekor saja."
Artinya, peluang petani ikan untuk menambah nilai jual sangat terbuka. Satu kilogram ikan nila rata-rata dijual Rp 12.500.

Posisi kedua diraih Larasati Sukmadewi Wibowo dan Yuliana Bakari. Kedua siswi MAN Insan Cendekia ini menemukan cara mudah untuk memanfaatkan ikan teri nike, sejenis ikan laut endemik khas Gorontalo. Ikan jenis itu diolah menjadi bahan makanan berupa kerupuk. Temuan itu tentunya membuka mata nelayan setempat. Sebab selama ini ikan nike acap kali melimpah dan terbuang.

Prof Dr Ishak Isa MSi pun tak ketinggalan memberikan ide baru dalam memanfaatkan tongkol jagung. Sebagai pemenang ketiga, Guru Besar Universitas Negeri Gorontalo ini memanfaatkan limbah tongkol jagung sebagai bahan baku arang aktif. Tongkol jagung yang selama ini terbuang percuma dapat dibakar dan arangnya bermanfaat untuk pemurnian minyak goreng.
Gorontalo yang dikenal sebagai sentra kopra sangat relevan dengan karya tersebut guna meningkatkan mutu industri minyak goreng, terutama yang berskala rumah tangga.

Untuk Indonesia

Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman sangat menghargai upaya penggalian inovasi yang berbasis potensi kearifan lokal tersebut. Kegiatan kali ini, yang digalakkan Salemba Study Group dan Keluarga Salemba Tengah (KST)-29, tentunya bisa dijadikan model penggalian inovasi yang membumi secara nasional.
"Sebuah inovasi tak mesti mahal, tapi yang utama orisinal dan bisa diterapkan pada masyarakat," tutur Kusmayanto.
Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad berjanji, program tersebut akan ditradisikan dalam upaya memberdayakan potensi sumber daya alam dan untuk kesejahteraan masyarakat. (NAR)

Tidak ada komentar: