Ristek.go.id
Rabu,19 Desember 2007 21:56
Otonomi daerah menempatkan Pemda berada di depan garda depan dalam melaksanakan pembangunan. Implementasi otonomi daerah mempunyai konsekuensi bahwa kinerja pemda dipertaruhkan untuk kesejahteraan rakyat, karena itu kemandirian menjadi suatu keharusan untuk mempertajam visi dan ketepatan strategi kepala daerah. Disinilah Pemda bersama masyarakat dan stakeholder perlu mengambil langkah-langkah proaktif dan inovatif dalam memaksimalkan dan mendayagunakan seluruh potensi masyarakat, agar tercipta karya yang inovatif.
Sebagai salah satu Propinsi Termuda di Indonesia, Gorontalo justru ingin menjadi pelopor bagi daerah lain, yaitu dengan misinya menjadi propinsi penuh inovasi. Salah satu untuk meningkatkan peran masyarakat dan menggali kreatifitas masyarakat terutama unggulan daerah, Universitas Negeri Gorontalo dan Kelompok Salemba Tengah menyelenggarakan Kongres Inovasi Gorontalo untuk Indonesia.
Tujuan kongres adalah untuk mengumpulkan pengetahuan, pengalaman dan inovasi; memperlancar aliran informasi dan meningkatkan kesadaran akan adanya kapasitas untuk melahirkan ide-ide pembangunan kreatifitas. Selain kongres juga diberikan penghargaan “FM INOVATION AWARD” kepada inovator-inovator yang memberikan sumbangsih nyata kepada masyarakat, terutama masyarakat Gorontalo. Pada pembukaan kongres pada tanggal 19 Desember 2007 ini dihadiri oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi Bapak Kusmayanto Kadiman dan Gubernur Propinsi Gorontalo Bapak Fadel Muhammad serta Rektor Universitas Negeri Gorontalo. Menristek dalam kata sambutannya menekankan bahwa kata inovasi sebetulnya bukan kata baru di Indonesia dan bukan pula sesuatu yang jatuh dari langit. Inovasi itu sendiri sudah dilakukan sejak Ki Hajar Dewantoro dengan sebutan “niteni, niruake dan nambahake”. Maksud dari niteni dalam hal ini adalah memperhatikan apa yang sudah ada terutama potensi daerah kemudian menirukannya dan yang terakhir menambahkan sesuatu yang baru.
Pemenang inovation award ini terdiri 3 pemenang dari 34 peserta dari katagori perorangan. Ketiga pemenang tersebut antara lain Juara pertama Dra. Margareta Solang dengan judul Peningkatan pertumbuhan dan kematangan Gonad Ikan Nila melalui Teknik pemotongan sirip ekor, Pemenang kedua Larasati Sukmadewi Wibowo dan Yuliani Bakari dengan judul Krupuk Nike dan Pemenang ketiga Prof. Dr Ishak Isa dengan judul Teknologi pemanfaatan limbah Tongkol Jagung sebagai Bahan baku Pembuatan arang Aktif. (Humasristek)
Rabu,19 Desember 2007 21:56
Otonomi daerah menempatkan Pemda berada di depan garda depan dalam melaksanakan pembangunan. Implementasi otonomi daerah mempunyai konsekuensi bahwa kinerja pemda dipertaruhkan untuk kesejahteraan rakyat, karena itu kemandirian menjadi suatu keharusan untuk mempertajam visi dan ketepatan strategi kepala daerah. Disinilah Pemda bersama masyarakat dan stakeholder perlu mengambil langkah-langkah proaktif dan inovatif dalam memaksimalkan dan mendayagunakan seluruh potensi masyarakat, agar tercipta karya yang inovatif.Sebagai salah satu Propinsi Termuda di Indonesia, Gorontalo justru ingin menjadi pelopor bagi daerah lain, yaitu dengan misinya menjadi propinsi penuh inovasi. Salah satu untuk meningkatkan peran masyarakat dan menggali kreatifitas masyarakat terutama unggulan daerah, Universitas Negeri Gorontalo dan Kelompok Salemba Tengah menyelenggarakan Kongres Inovasi Gorontalo untuk Indonesia.
Tujuan kongres adalah untuk mengumpulkan pengetahuan, pengalaman dan inovasi; memperlancar aliran informasi dan meningkatkan kesadaran akan adanya kapasitas untuk melahirkan ide-ide pembangunan kreatifitas. Selain kongres juga diberikan penghargaan “FM INOVATION AWARD” kepada inovator-inovator yang memberikan sumbangsih nyata kepada masyarakat, terutama masyarakat Gorontalo. Pada pembukaan kongres pada tanggal 19 Desember 2007 ini dihadiri oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi Bapak Kusmayanto Kadiman dan Gubernur Propinsi Gorontalo Bapak Fadel Muhammad serta Rektor Universitas Negeri Gorontalo. Menristek dalam kata sambutannya menekankan bahwa kata inovasi sebetulnya bukan kata baru di Indonesia dan bukan pula sesuatu yang jatuh dari langit. Inovasi itu sendiri sudah dilakukan sejak Ki Hajar Dewantoro dengan sebutan “niteni, niruake dan nambahake”. Maksud dari niteni dalam hal ini adalah memperhatikan apa yang sudah ada terutama potensi daerah kemudian menirukannya dan yang terakhir menambahkan sesuatu yang baru.
Pemenang inovation award ini terdiri 3 pemenang dari 34 peserta dari katagori perorangan. Ketiga pemenang tersebut antara lain Juara pertama Dra. Margareta Solang dengan judul Peningkatan pertumbuhan dan kematangan Gonad Ikan Nila melalui Teknik pemotongan sirip ekor, Pemenang kedua Larasati Sukmadewi Wibowo dan Yuliani Bakari dengan judul Krupuk Nike dan Pemenang ketiga Prof. Dr Ishak Isa dengan judul Teknologi pemanfaatan limbah Tongkol Jagung sebagai Bahan baku Pembuatan arang Aktif. (Humasristek)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar